Senin, 22 Mei 2017

Menyoal Kelas Akselerasi



Kehadiran kelas akselerasi akan berdampak kurang baik bagi perkembangan mental anak. Kelas yang selama ini banyak “digandrungi”  oleh para orang tua tersebut hanya akan membuat anak tumbuh secara instant. Selain itu program akselerasi ini juga tidak sesuai dengan semangat yang dibangun dalam kurikulum 2013 dimana pembentukan karakter peserta didik menjadi bagian penting dari proses pendidikan yang tengah dijalankan. Hal itu diungkapkan oleh Mendikbud Muhajjir Effendy saat melepas para peneliti muda yang akan berlaga dalam kompetisi yang akan berlangsung di California beberapa waktu lalu. Mendikbud pun mengingatkan akan pentingnya kecerdasan sosial dan spiritual sebagai faktor yang turut menentukan kesuksesan seseorang di masa depan.
Dalam pandangan penulis, rencana penghapusan kelas akselerasi oleh Kemdikbud ini merupakan kebijakan yang tepat. Kenyataan menunjukkan, kelas akselerasi hanya mampu mencetak anak-anak yang cerdas secara akademik namun tidak memiliki kecerdasan sosial maupun emosional yang memadai. Masa studi SD yang ditempuh hanya dalam waktu lima tahun menyebabkan materi pembelajaran menjadi sangat padat.
Akibatnya siswa pun seakan “dikejar setoran” dan hanya fokus pada kegiatan akademik semata. Lebih dari itu, kelas akselerasi secara tidak langsung membentuk karakter peserta didik menjadi elitis dan individualistis. Mereka lebih mementingkan diri sendiri demi mendapatkan nilai yang baik. Kelas akselerasi ibarat sebuah mesin pabrik yang berorientasi meghasilkan sebuah produk tanpa mementingkan prosesnya. Padahal tujuan pendidikan tidaklah demikian.
Pendidikan pada hakikatnya lebih menekankan pada proses yang harus dijalani oleh setiap peserta didik. Dalam proses tersebut terdapat beberapa fase atau tahapan yang harus dijalani. Melewatkan satu fase saja akan mengakibatkan peserta didik menjadi pribadi yang tidak utuh di kemudian hari.
Adapun Sekolah Dasar merupakan pondasi awal yang sangat penting dan menentukan kelanjutan proses pendidikan selanjutnya. Oleh karena itu, memotong masa studi SD demi mengejar kemampuan akademik sama saja dengan mengorbankan masa depan anak. Masa-masa bermain anak sejatinya merupakan salah satu bagian penting dari sebuah proses pendidikan. Saat bermain dengan teman sebayanya, anak akan belajar bagaimana cara bersosialisasi dan memahami satu sama lainnya.
Berdasarkan gambaran diatas, sudah saatnya sekolah-sekolah yang saat ini menerapkan kelas akselerasi untuk meninjau kembali kebijakannya. Selain tidak relevan dengan kurikulum 2013 yang mengedepankan karakter dalam setiap mata pelajarannya, kondisi kelas akselerasi yang bersifat homogen akan menyebabkan peserta didik shock saat mereka terjun ke masyarakat yang bersifat heterogen. 
Adapun bagi orang tua yang selama ini “mendewakan” angka-angka, sudah saatnya mereka kembali ke jalan yang benar. Orang tua seharusnya lebih bangga saat melihat anak mereka memiliki rasa empati yang tinggi kepada orang lain daripada hanya sekedar mendapatkan ranking di kelasnya. Dengan begitu, pendidikan yang bertujuan membentuk manusia seutuhnya pun dapat benar-benar terwujud.  (Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Edisi 23 Mei 2017)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar