Rabu, 14 Juni 2017

Meninjau Kesiapan Full Day School



Himbauan agar pemerintah mengkaji kembali kebijakannya untuk menerapkan sekolah sehari penuh (full day school)  disampaikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) beberapa waktu lalu. Kebijakan yang akan diberlakukan mulai tahun ajaran 2017 / 2018 tersebut dikhawatirkan akan mengganggu penyelenggaraan pendidikan keagamaan di madrasah maupun pesantren. Banyak madrasah dipastikan akan gulung tikar akibat ketiadaan murid. Selain itu MUI pun meragukan kesiapan pemerintah maupun sekolah dalam melaksanakan pembelajaran model baru yang berorientasi pada penguatan karakter peserta didik itu.
Apa yang disampaikan oleh MUI tersebut memang bukan tanpa alasan. Hingga berakhirnya tahun ajaran ini, penulis belum melihat kesiapan dari sekolah-sekolah yang ada dalam menyambut datangnya tahun ajaran baru dengan sistem pembelajaran yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya itu. Sebaliknya, berbagai pertanyaan maupun persoalan justru muncul tanpa adanya solusi yang jelas dari pihak pemerintah. Kekhawatiran akan dijadikannya siswa sebagai “kelinci percobaan” pun diutarakan oleh berbagai kalangan yang merasa prihatin dengan dunia pendidikan saat ini yang terkesan dijadikan ajang coba-coba oleh setiap rezim.
Setidaknya ada tiga hal yang masih dirasakan sebagai ganjalan oleh sekolah-sekolah dalam menghadapi tahun ajaran baru mendatang. Pertama, kesiapan kurikulum. Bertambahnya waktu belajar di sekolah tentunya akan berpengaruh terhadap jumlah maupun jenis mata pelajaran yang akan diajarkan. Dalam hal ini sekolah belum mendapatkan arahan yang jelas terkait mata pelajaran yang harus diajarkan maupun kegiatan penunjang yang perlu diberikan dalam rangka penguatan karakter peserta didik. Mendikbud sendiri pernah menyampaikan, keberadaan anak di sekolah akan diisi dengan 3 kegiatan inti, yaitu intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Namun, banyak sekolah yang masih belum memahami detail kegiatan pembelajaran sebagaimana yang dimaksudkan oleh Mendikbud tersebut.
Kedua, kesiapan sarana pembelajaran. Tersedianya sarana penunjang yang memadai akan mampu mengoptimalkan waktu yang dimiliki anak selama berada di lingkungan sekolah. Keberadaan sarana penunjang seperti ruang komputer, laboratorium IPA, sarana olahraga, ruang khusus ekstrakurikuler serta sarana penunjang lainnya akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Sebaliknya, keterbatasan sarana penunjang hanya akan membuat perpanjangan waktu belajar menjadi mubazir dan cenderung menjemukan.
Ketiga, kesiapan SDM. Penambahan jam belajar dipastikan akan berpengaruh terhadap jumlah tenaga pengajar yang dibutuhkan oleh sekolah. Dalam hal ini pemerintah sangat diharapkan perannya dalam menyediakan SDM sesuai dengan jumlah maupun kompetensi yang dibutuhkan. Membiarkan sekolah-sekolah berjuang sendiri untuk memcahkan masalahnya bukanlah sikap yang bijak.
Ketiga persoalan tersebut seyogyanya menjadi bahan pemikiran para pengambil kebijakan dalam upaya memperbaiki wajah dunia pendidikan di negeri ini. Sekolah sehari penuh sebaiknya hanya diberlakukan pada sekolah-sekolah yang memang memiliki kesiapan dalam hal sarana maupun SDM. Selain itu kehadiran kurikulum yang berorientasi pada penguatan karakter pun hendaknya menjadi bagian tak terpisahkan dari ikhtiar untuk membangun generasi unggul berkarakter. Dengan demikian, inovasi yang dilakukan oleh pemerintah pun benar-benar mampu menjawab berbagai persoalan yang ada, bukan malah menambah masalah baru bagi dunia pendidikan. (Dimuat di Koran Pikiran Rakyat Edisi 14 Juni 2017)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar