Sabtu, 28 Oktober 2017

Bila Hidup Tidak Untuk Dakwah



Tingginya derajat manusia di hadapan Allah SWT sejatinya tidak hanya ditentukan oleh sejauh mana ketaatan mereka dalam menjalankan ibadah serta menjauhi larangan-Nya. Lebih dari itu, ikhtiar seorang muslim untuk menyeru umat manusia agar senantiasa berada di jalan Allah menjadi nilai tersendiri yang akan dicatat sebagai amal shaleh untuk bekal di akhirat nanti. Degradasi moral yang saat ini tengah menjangkiti masyarakat “modern” dijadikannya tantangan sekaligus jembatan untuk meraih ridho Ilahi.
Adapun kesempatan maupun kewajiban untuk melakukan aktivitas dakwah tersebut sejatinya tidak hanya dikhususkan bagi kalangan da’i atau ulama semata, namun juga masyarakat pada umumnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung”. Dari ayat tersebut terlihat jelas bahwa siapa pun dapat mengambil bagian dalam upaya menegakkan kalimatullah, apapun profesi mereka.
Seorang guru matematika yang mengajar di Sekolah Dasar (SD) misalnya, mereka tidak hanya dituntut untuk mampu melakukan transfer ilmu kepada anak didiknya, namun juga membentuk karakter mereka. Saat menjelaskan materi tentang perkalian 5, guru dapat mengaitkannya dengan kewajiban shalat yang lima waktu maupun rukun islam yang jumlahnya lima. Begitu pula dengan para pedagang di pasar. Dengan menggunakan timbangan yang akurat saat mereka melakukan transaksi jual beli, niscaya mereka tengah berdakwah dengan cara memberikan keteladanan kepada para pedagang lainnya untuk senantiasa berbuat jujur dan tidak menipu pembeli. Hal ini dikarenakan kegiatan dakwah tidak hanya terpaku pada aktivitas lisan semata, namun juga dapat dilakukan melalui perbuatan.       
Selanjutnya, kepada siapakah seruan (dakwah) itu harus dilakukan ? Mengenai hal ini Allah SWT berfirman dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 214 – 215 yang berbunyi : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. Ayat tersebut menjelaskan bahwa upaya untuk menegakkan amal ma’ruf nahi munkar hendaknya dimulai dari orang-orang yang ada di sekeliling kita. Mulai dari keluarga, kerabat, tetangga, sampai dengan rekan seprofesi kita selayaknya dijadikan sasaran utama dakwah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Hal ini penting dilakukan agar pondasi dakwah yang tengah dibangun benar-benar mampu bertahan saat harus menghadapi berbagai tantangan yang muncul di lapangan.
Dalam rangka meningkatkan kualitas hidup serta ibadah kita kepada Allah SWT, penulis mengajak kepada setiap muslim untuk menjadikan dakwah sebagai bagian dari hidupnya. Senantiasa menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran sesuai dengan kemampuannya merupakan pribadi yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Dengan begitu, kita pun berharap Allah akan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beruntung sebagaimana tercantum dalam firman-Nya.   (Dimuat di Koran Republika, Edisi 29 Oktober 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar