Rabu, 22 November 2017

Agar Literasi Tak Sekedar Basa Basi

Kegiatan bertajuk “Jambore Literasi Jawa Barat 2017” yang diselenggarakan baru – baru ini mendapatkan respon cukup hangat dari berbagai kalangan. Acara yang mengusung tema “Tangguh Taklukkan Tantangan, Menjadi Cahaya Peradaban” tersebut sengaja digelar sebagai bentuk penghargaan kepada guru serta siswa yang berhasil mengikuti tantangan dalam program West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC). Tak kurang dari 2500 peserta turut hadir dalam hajatan yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Persatuan Guru Republik Indonesia itu. Harapan akan lahirnya generasi yang menjadikan buku sebagai sahabat setia pun diutarakan oleh berbagai elemen masyarakat usai diselenggarakannya hajatan besar tersebut.
Upaya untuk meningkatkan budaya literasi di kalangan guru dan pelajar sebagaimana yang dilakukan oleh Pemprov Jabar tersebut memang bukan tanpa alasan. Hasil studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada tahun 2016 menunjukkan, Indonesia  menempati peringkat ke-60 dari 61 negara yang diteliti dalam hal minat membaca. Indonesia berada persis di bawah Thailand dan hanya sedikit lebih unggul dari Bostwana. Hal ini tentunya menjadi sebuah ironi mengingat ketersediaan infrastruktur untuk mendukung kebiasaan membaca di Indonesia sudah lebih baik dari negara – negara Eropa sekalipun. Untuk komponen infrastruktur pendukung, Indonesia menempati urutan ke - 34 di atas Jerman, Portugal, Korea Selatan  dan Selandia Baru.
Kenyataan di atas secara tidak langsung telah mematahkan anggapan bahwa ketersediaan infrastruktur menjadi kendala utama dalam upaya meningkatkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Perpustakaan yang sejatinya berperan sebagai jantung sekolah cenderung tidak dikelola dengan baik oleh mereka yang diberikan amanah. Kondisi ruangan yang tidak nyaman serta lokasi yang cukup jauh dari jangkauan siswa, membuat mereka enggan untuk datang. Di samping itu kurangnya SDM khusus yang dapat benar-benar fokus dalam mengelola perpustakaan mengakibatkan gudang ilmu tersebut  semakin tak terurus. Alhasil, perpustakaan sekolah pun tak jarang menjadi sarang cakcak, cucunguk, lancah maung jeung sajabana akibat jarang dikunjungi oleh siswa.
Kondisi ini diperparah oleh kurangnya keteladanan dari para guru untuk menjadikan buku sebagai teman setia mereka. Di waktu senggang kita sering kali menyaksikan lebih banyak guru yang asyik bercengkerama dengan gadget mereka daripada memanfaatkan waktunya untuk membaca buku. Sebagian guru bahkan terlihat anteng memainkan telepon genggamnya saat Kegiatan Belajar Mengajar  (KBM) berlangsung. Metode belajar CBSA alias Cul  Budak Sina Anteng pun kembali menjadi tren di kalangan “guru millenial” semacam ini.
Agar upaya untuk meningkatkan literasi di lingkungan sekolah tidak sekedar basa basi, pihak pengelola sekolah hendaknya mampu mengeluarkan kebijakan yang benar – benar berorientasi pada peningkatan minat baca di kalangan siswa maupun guru – gurunya. Menghidupkan (kembali) perpustakaan sekolah serta menyediakan SDM yang mumpuni untuk mengelola perpustakaan menjadi sebuah keniscayaan. Selain itu raport literasi pun sebaiknya diberlakukan bagi guru serta siswa untuk mengukur sejauh mana keberhasilan program peningkatan budaya literasi yang tengah dijalankan. Dengan demikian, budaya membaca yang merupakan ciri khas pelajar pun dapat kembali melekat. Semoga. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar